Pria itu tertunduk sedih. Secarik kertas putih dan sebatang pena dalam genggamannya. Pandangannya memancarkan kesedihan yang begitu dalam. Ada sesuatu yang menghimpit perasaannya. Sesekali tangannya bergerak kearah matanya. mengusap bulir-bulir bening yang mengalir.
Maafkan aku sayang, yang harus pergi meninggalkanmu, demi cita-cita kita bersama untuk sang buah hati.
Maafkan aku sayang, yang tidak bisa menemani hari-harimu, mendidik dan menjaga sang arjuna kecil kita.
Maafkan aku sayang, yang hanya bisa menemanimu beberapa menit saja setiap harinya, meski lewat nada.
Sesaat tangannya berhenti menulis. Ada beban berat yang seakan menghimpit jiwanya.
Maafkan aku sayang, bahkan disaat-saat engkau berjuang bertaruh hidup demi buah hati kita, aku tak dapat mendampingimu.
Maafkan aku sayang, karena tak bisa menggantikanmu terbangun ditengah malam karena tangisan kecil kedua arjuna kecil kita.
Maafkan aku sayang, karena saat ini hanya do’a yang bisa aku panjatkan, untuk kalian disana.
Diletakkannya pena yang ada dalam genggamannya. Ditariknya napas panjang. Diambilnya sehelai saputangan dari sakunya. Diusapnya kedua matanya yang telah basah oleh linangan air mata. Ya, kedua mata itu benar-benar basah oleh linangan air mata, meski tak ada isak terdengar.
Tapi ingatlah wahai kekasihku,
Dari setiap bulir-bulir air susu yang keluar, akan dibalas dengan surga.
Atas setiap kelelahan yang ikhlas akan berbalas dengan surga.
Dari setiap belaian tanganmu, akan berbalas dengan surga.
Bahkan atas setiap tarikan nafasmu yang disertai keridhla-an kepada Allah, akan dibalas dengan surga
Kali ini diletakkannya benda di kedua tangannya. Tak kuasa menahan haru yang mendera. Air matanya semakin deras. Tertunduk……. Ditariknya napas berulangkali.
Kekasihku,
Tetaplah ikhlas, tetaplah istiqomah.
Inilah jalan yang sudah dituliskan, bahkan jauh sebelum kita lahir.
Semoga semua keikhlasanmu, memberikan kekuatan kepadaku.
Semoga berkat do’a dalam setiap sujudmu, memberikan kemudahan kepadaku.
Semoga semua tetap karena Allah….
kembali ia menarik napas panjang. Saputangannya telah basah oleh bulir-bulir airmatanya
Bidadariku,
Hanya do’a yang bisa kupanjatkan untuk selalu menyertaimu
Ya Allah, berikanlah kesehatan dan kekuatan kepadanya dan kepada kedua malaikat kecilku.
Ya Allah, lindungi mereka. Tiada sebaik-baik pelindung selain Engkau.
Ya Allah, jika ini jalan yang harus kami lalui, berikan kekuatan kepada kami, berikan keikhlasan ya Allah.
Ya Allah, tambahkan ilmu kami, agar dapat mendidik titipan yang engkau berikan.
Ya Allah, mudahkan urusan kami, tunjuki kami jalan kebaikan dan berikan kami kekuatan untuk menjalaninya.
ya Allah, kabulkan do’a kami… Amin
Tak kuasa ia melanjutkan tulisannya. Disekanya kedua matanya, kemudian dilipatnya secarik kertas tersebut. Perlahan, dilangkahkan kakinya menelusuri koridor panjang.
[ Untuk istriku tersayang, dan kedua malaikat kecilku habibie dan alif . Tanjong Pagar, 24 Maret 2008 ]
Komentar Tamuku