Seperti suku – suku yang lainnya yang ada di nusantara ( Indonesia ), masyarakat bugis juga memiliki tradisi dalam proses pernikahan. Mulai dari lamaran, pra akad nikah, akad nikah, sampai dengan pasca akad nikah. Semuanya terangkai dalam suatu proses yang cukup unik.
Saya tidak akan menuliskan secara lengkap disini, karena telah dituliskan secara lengkap oleh rekan yang lain ( lihat link dibawah ). Namun pada intinya, proses ini terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu :
- Madduta ( Pinangan / Lamaran ).
- Proses ini dimulai dengan datangnya wakil dari keluarga laki – laki kepada pihak perempuan. Biasanya dalam proses ini terjadi dialog tentang hal – hal yang berkenaan dengan upacara pernikahan yang dimaksud. Diawali dengan menanyakan apakah sang perempuan masih “Available” atau tidak. Jika masih, akan dilanjutkan dengan prosesi lamaran yang biasanya membicarakan tentang berapa besar mahar dan “Uang Pesta” yang akan diberikan oleh pihak laki-laki.
- Proses ini biasanya cukup alot, bahkan tak jarang harus ada aksi “rampu’ kawali” ( cabut badik ) dalam negosiasinya. ( Ini dulu, waktu masih boleh bawa badik kemana2, hehehehe )
- Mappaisseng ( Undangan ).
- Mappaisseng adalah proses “mengundang” para keluarga / kerabat dekat untuk hadir dalam acara pernikahan yang akan dilangsungkan. Yang unik disini adalah pihak calon mempelai akan mengirimkan wakilnya untuk menyampaikan secara lisan perihal rencana pernikahan. Kebiasaan ini masih berlanjut sampai sekarang, meski telah ada undangan atau sms sekalipun.
- Mappacci ( Selamatan di Malam Akad Nikah )
- Proses ini biasanya di awali dengan pembacaan kitab “barzanzi”, yang nantinya akan diikuti oleh prosesi pemberian bedak kepada mempelai.
- Akad Nikah
- Marola ( Prosesi Mempelai wanita ke rumah mempelai pria )
- kunjungan balasan dari pihak perempuan kepada pihak lak-laki. karena biasanya dalam acara pesta pernikahan, pihak laki – laki yang akan datang ke pada pihak perempuan. Dan pihak laki – laki sendiri memiliki pesta yang terpisah dari pihak perempuan.
Hehe, yang jadi pertanyaan, apakah saya sebagai orang bugis melalui prosesi ini ? Tidak, karena istri yang saya dapat adalah seorang “PujaKesuma”. Yang ada hanya prosesi Mappacci saja. Tapi meski tidak semuanya, apa yang saya alami dengan adat bugis ini sangat berkesan.
Semoga saja adat istiadat ini tidak dibiarkan hilang begitu saja, atas nama modernisasi / globalisasi / simplisasi [ halah.....]
[ Tata cara pernikahan bugis bisa dibaca secara lengkap disini ]
Posted by soheh on November 3, 2008 at 12:05 am
ho…3 jd pgn kh m org bugis he…
Posted by Ichsan on September 9, 2009 at 11:19 am
thx yag ats infox
Posted by fitri on November 16, 2009 at 5:34 pm
thanks atas infox ,,,,,,,,,,,,,,, soalx Q pux tugas,akhirx terbengkalai jg